PENGKAJIAN
FISIK KEPERAWATAN
DEFINISI
PENGKAJIAN FISIK KEPERAWATAN
Pengkajian keperawatan merupakan caraperawat
dalam menggali permasalahan dari klien meliputi pengumpulan data tentang status
kesehatan seorang klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat dan
berkesinambungan.
TUJUAN PENGKAJIAN FISIK KEPERAWATAN
- Mengkaji secara umum dari status keadaan fisik klien
- Mengkaji fungsi fisiologis dan patologis
- Mengidentifikasi masalah keperawatan
TEHNIK DASAR PEMERIKSAAN FISIK
INSPEKSI
Adalah pemeriksaan dengan cara melihat atua
melakukan observasi terhadap keadaan klien. Tujuan dari teknik ini ialah
mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik. Teknik inspeksi
dilakukan ketika pertama kali bertemu klien dan yang diamati yaitu tingkah laku
dan keadaan tubuh klien serta hal umum dan khusus.
Langkah kerja:
- Atur Pencahayaan
- Suhu dan ruangan nyaman
- Buka bagian yg diinspeksi
- Bila perlu gunakan kaca pembesar
- Jelaskan hasil pada klien dan keluarga
- Perhatikan kesan pertama klien
7.
Sistematis
PALPASI
Adalah teknik pemeriksaan fisik dengan sentuhan,
rabaan maupun sedikit tekanan pada bagian tubuh yang akan diperiksa dan
dilakukan secara teroganisir dari satu bagian ke bagian yang lain. Tujuan dari
pemeriksaan ini adalah mendeterminasi ciri-ciri jaringan atau organ. Dapat
dilakukan bersamaan dengan teknik inspeksi dan perkusi.
Teknik palpasi dibagi
menjadi dua:
1.
Palpasi
ringan
Caranya: ujung-ujung jari pada satu/dua tangan
digunakan secara simultan.Tangan diletakkan pada area yang dipalpasi, jari-jari
ditekan kebawah perlahan-lahan sampai ada hasil.
- Palpasi dalam (bimanual)
Caranya: untuk merasakan isi abdomen, dilakukan
dua tangan.Satu tangan untuk merasakan bagian yang dipalpasi, tangan lainnya
untuk menekan ke bawah. Dengan Posisi rileks, jari-jari tangan kedua diletakkan
melekat pd jari2 pertama.
Langkah kerja:
- Area palpasi terbuka
- Cuci tangan
- Beritahu klien
- Dikerjakan semua jari tp telunjuk dan ibu jari > sensitif.
- u/ mendeterminasi bentuk dan struktur organ gunakan jari 2,3, dan 4 bersamaan.
- U/ palpasi abdomen gunakan telapak tangan, beri tekanan ringan dgn jari2.
- Sistematis, uraikan ciri-ciri ttg ukuran, bentuk, konsistensi dan permukaan.
PERKUSI
Adalah pemeriksaan dengan
cara mengetuk. Tujuan pemeriksaan perkusi yaitu menentukan batas-batas organ
atau bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya
gerakan yang diberikan ke bawah jaringan (udara, cairan, atau zat padat).
Langkah kerja:
- Area terbuka
- Luruskan jari tengah tangan kiri, tekan bag. Ujung jari dan letakkan dgn kuat pada permukaan diperkusi.
- Upayakan jari – jari yg lain tidak menyentuh permukaan, konsisten pd permukaan yg diperkusi.
- Lenturkan jari tengah tangan kanan ke atas dgn lengan bawah relaks.
- Pertahankan kelenturan tangan pada pergelangan tangan.
AUSKULTASI
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan
menggunakan alat bantu yaitu stetoskop dengan tujuan pemeriksaannya adalah
untuk dapat mendengar bunyi jantung, paru-paru, bunyi usus serta untuk mengukur
tekanan darah dan nadI.
PEMERIKSAAN FISIK KEPALA KE KAKI (HEAD TO TOE)
PEMERIKSAAN
TANDA-TANDA VITAL
SUHU TUBUH
MEKANISME PENGATURAN SUHU TUBUH
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap
saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk
mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi
suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed
back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus.
Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas,
tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi
bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan
suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh
dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. apabila suhu tubuh
meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk melakukan
serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi
panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik
tetap.
Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah
1. Mekanisme tubuh ketika
suhu tubuh meningkat yaitu :
a. Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir
dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini disebabkan oleh hambatan dari
pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokontriksi
sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan
percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih
banyak.
b. Berkeringat
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi
sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37°C.
pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui
evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1°C akan menyebabkan pengeluaran
keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan
dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan
salah satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis.
Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik
anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh
kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang
merangsang produksi keringat.
c. Penurunan pembentukan panas
Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti
termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat.
2. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun,
yaitu :
a. Vasokontriksi kulit di
seluruh tubuh
Vasokontriksi terjadi karena
rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.
b. Piloereksi
Rangsangan simpatis
menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri.
Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah,
berdirinya bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.
c. Peningkatan pembentukan
panas
Pembentukan panas oleh
sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan panas
akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.
Penjalaran Sinyal Suhu Pada Sistem Saraf
Sinyal suhu yang dibawa oleh reseptor pada kulit
akan diteruskan ke dalam otak melalui jaras spinotalamikus (mekanismenya hamper
sama dengan sensasi nyeri). Ketika sinyal suhu sampai di tingkat medulla
spinalis , sinyal akan menjalar dalam traktus Lissauer beberapa segmen di atas
atau di bawah, dan selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II dan III
radiks dorsalis.
Setelah mengalami percabangan melalui satu atau
lebih neuron dalam medulla spinalis, sinyal suhu selanjutnya akan dijalarkan ke
serabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sisi
berlawanan, dan akan berakhir di tingkat reticular batang otak dan komplek
ventrobasal thalamus. Beberapa sinyal suhu pada kompleks ventrobasal akan
diteruskan ke korteks somatosensorik.
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal
tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi
tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya,
sangat terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan
kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf
simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk
dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas.
Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang
menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan
metabolisme.
3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone )
dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya,
produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas
hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat
mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan
metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan
produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada
laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi
meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan
peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan
kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada
zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian,
orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh
(hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak
mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik,
dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan
jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang
peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ
yang menghasilkan energi termal. Latihan
(aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan
pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami
gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat
merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar
keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh
terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan
lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan
yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu
tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian
besar melalui kulit.
PERALATAN PENGUKURAN SUHU TUBUH
TERMOMETER
(AIR RAKSA,DIGITAL, MEMBRAN TIMPANI, STRIP)
CAIRAN PEMBERSIH (LARUTAN SABUN, LARUTAN DESINFEKTAN, AIR
BERSIH)
TISSUE
JELLY
TEHNIK
PENGUKURAN SUHU TUBUH
MEMPERSIAPKAN TERMOMETER
Bersihkan
thermometer dengan air bersih (bila disimpan dalam larutan desinfentan)
kemudian keringkan dengan kertas tissue.Cara membersihkan thermometer adalah
dengan kertas tissue digerakkan memutar dari pangkal (dekat jari yang memegang)
menuju ujung reservoar.
Periksa
air raksa pada thermometer dan turunkan air raksa, dengan cara mengibaskan /
menggoncangkan (dengan gerakan menghentak) thermometer ke arah bawah. Dilakukan
berkali-kali sampai air raksa berada di bawah skala 35oC.
Pemeriksaan Peroral : Mulut
1.
Mintalah klien
membuka mulut dan letakkan reservoar di bawah lidah (sublingual). Arahkan
thermometer ke sudut mulut dan anjurkan klien menutup mulutnya dengan rapat.
Selama pengukuran klien tidak diperkenankan berbicara / membuka mulut.
2.
Biarkan
thermometer selama 3-5 menit.
3.
Keluarkan
thermometer dan usap dengan kertas tissue ke arah reservoar, sehingga air raksa
dapat terbaca / terlihat.
4.
Baca thermometer dengan keadaan sejajar dengan
mata dan catat hasil yang diperoleh.
Pemeriksaan per axial : ketiak
1.
Anjurkan klien
membersihkan ketiaknya / keringkan ketiak klien dengan kertas tissue.
2.
Letakkan reservoar tepat di tengah ketiak, rapatkan
lengan atas klien ke badan dan lengan di atas dada klien.
3.
Biarkan
thermometer selama 5-10 menit.
4.
Angkat
thermometer
5.
Baca
thermometer dengan keadaan sejajar dengan mata dan catat hasil yang diperoleh
Pemeriksaan per rectal : anus
1.
Usapkan jelly
/ vaselin pada thermometer kira-kira 2-3 cm dari ujung reservoar.
2.
Atur posisi
klien dengan posisi sim / menungging dan singkapkan sedikit selimut klien
sampai bagian pantat, regangkan pantat klien sampai tampak sphincter ani.
Pada bayi, posisi terlentang
dan angkat kedua kakinya.
3.
Masukkan reservoar thermometer ke dalam rectum 3,8 cm
(pada klien dewasa); 2,5 cm (pada anak-anak); 1,25 cm (pada bayi).
4.
Biarkan selama
2 – 3 menit
5.
Keluarkan
thermometer dan usap dengan kertas tissue ke arah reservoar sehingga air raksa
terlihat jelas.
6.
Baca
thermometer dengan keadaan sejajar dengan mata dan catat hasil yang didapat.
CARA MEMBERSIHKAN THERMOMETER
1.
Keringkan thermometer dengan kertas tissue dengan gerakan
memutar dari pangkal reservoarnya.
2.
Bersihkan dengan larutan air sabun dan usap lagi dengan
kertas tissue dengan gerakan yang sama
3.
Bilas dengan air dingin dan keringkan dengan kertas
tissue dengan gerakan yang sama.
4.
Celupkan thermometer ke dalam larutan desinfektan dan
bilas lagi dengan air bersih.
5.
Keringkan lagi
dengan kertas tissue dan simpan kembali pada tempatnya.
NADI
MEKANISME PENGATURAN NADI
•
Denyut nadi : loncatan aliran darah yg dpt teraba pd berbagai titik tubuh
Darah mengalir dlm tubuh scr terus menerus sesuai dg
jantung memompa darah scr berkala ke dlm sistem arteri, dmana tiap kontraksi
ventrikuler kira-kira 60-70 ml darah memasuki aorta, menekan dinding aorta
& menimbulkan denyutan
Frekwensi jantung
normal
|
Usia
|
Frekwensi jantung
|
|
Bayi
|
100 – 180 dyt / mnt
|
|
Bayi 1 mgg – 3 bln
|
100 – 220 dyt / mnt
|
|
3 bln – 2 tahun
|
80 – 150 dyt / mnt
|
|
2 – 10 tahun
|
70 – 110 dyt / mnt
|
|
10 – 21 thn
|
60 – 90 dyt / mnt
|
|
>21 thn
|
60 - 100 dyt / mnt
|
Isi nadi
Mencerminkan tekanan nadi, yakni beda tek
sistolik & diastolik
Tiap denyt nadi sejumlah darah melewati bagian
tertentu & jmlh darah dicerminkan tinggi puncak
l Pulsus magnus : denyutan terasa mendorong jari
Pulsus
parvus : denyutan terasa lemah (gelombang nadi lemah)
IramaNormal : Teratur
Abnormal:
l Pulsus bigemini = tiap
2 denyut jantung dipisahkan sesamanya oleh waktu yg lama, krn satu diantara
tiap denyut menghilang.
l Pulsus trigemini = tiap
3 denyut jantung dipisahkan oleh masa antara denyut nadi yg lama.
l Pulsus ekstra sistolik
= interval yg memanjang dpt ditemukan jg jk tdpt 1 denyut tambahan yg timbul
lbh dini drpd denyut-denyutan lain yg menyusul.
Macam/ciri denyutan:
Tiap denyut nadi dilukiskan sebagai suatu
gelombang yang terdiri dari bagian yang naik, puncak, dan turun.
l Pulsus anarkot, :denyut nadi yg lemah, mempunyai gelombang dg puncak tumpul dan
rendah,
l Pulsus seler, yakni denyut nadi yg seolah-olah meloncat tinggi, meningkat tinggi,
dan menurun cepat sekali,
l Pulpus paradoks: denyut nadi yg semakin lemah slm inspirasi bahkan menghilang sama
sekali pd bagian akhir inspirasi utk timbul kembali pd ekspirasi.
l Pulpus alternans: nadi yg kuat & lemah berganti-ganti,
misalnya pd kerusakan otot jantung.
Faktor yg mempengaruhi frekwensi nadi
|
Faktor
|
Efek
|
|
Latihan
|
Efek jangka pendek = meningkatkan kecepatan
Efek jangka panjang= menguatkan otot jantung
|
|
Demam
|
Meningkatkan frekwensi
|
|
Kehilangan volume darah
|
Meningkatkan frekwensi
|
|
Prubahan posisi tubuh
Berbaring
Berdiri
|
Memperlambat frekwensi
Meningkatkan frekwensi
|
|
Metabolisme
Hipertiroid
Hipotiroid
|
Meningkatkan frekwensi
Memperlambat frekwensi
|
Frekwensi denyut normal
|
Bayi baru lahir
|
100 – 180 dyt/menit
|
|
Bayi 1 mgg – 3 bln
|
100 – 220 dyt/menit
|
|
3 bln – 2 thn
|
80 – 150 dyt/menit
|
|
2 – 10 thn
|
70 – 110 dyt/menit
|
|
10 – 21 thn
|
60 – 90 dyt/menit
|
|
> 21 thb
|
69 – 100 dyt/menit
|
………………….
PERALATAN PENGUKURAN NADI
- STETOSKOP
- KAPAS ALKOHOL
- ARLOJI
TEHNIK PENGUKURAN NADI PERIFER
1.
Atur posisi klien dengan tidur terlentang, semi fowler,
atau duduk
2.
Letakkan 3
jari (jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis) tepat di atas arteri yang
diperiksa (radialis atau yang lainnya). Gunakan telunjuk untuk menekan arteri
sedangkan jari tengah dan jari manis untuk menilai irama dan kwalitas denyutan.
3.
Lakukan
pemeriksaan selama satu menit
4.
Catat hasil
pengukuran mengenai:
a.
Frekuensi nadi
dalam menit
b.
Irama (regular
/ irregular)
c.
Kwalitas
denyutan (kuat / lemah)
d.
Kelainan-kelainan
yang dirasakan.
TEHNIK PENGUKURAN NADI APIKAL
1.
Atur posisi klien dengan posisi terlentang / semifowler
2.
Buka baju
klien pada daerah dada sebelah kiri
3.
Pasang eartips
stetoskop pada lubang telinga.
4.
Letakkan
stetoskop bagian bell pada area ICS IV/V di area linea midclavikula kiri bagian
lain dimana dapat diraba denyut apex.
5.
Dengarkan suara Lub – Dub (BJ I – BJ II) dan kaji selama
1 menit.
6.
Catat hasilnya
denyutan:
a.
Frekuensi
denyutan
b.
Irama denyutan
(reguler / irregular / dysrithmia)
c.
Kwalitas
denyutan (kuat / lemah)
d.
Kelainan-kelainan
yang terdengar.
PERNAFASAN
MEKANISME PENGATURAN PERNAFASAN
Respirasi dalam pengertian sebenarnya adalah
pertukaran gas, dimana O2 yang dibutuhkan untuk metabolisme sel masuk
ke dalam tubuh dan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme tersebut
dikeluarkan dari tubuh melalui paru. Agar terjadi pertukaran sejumlah gas untuk
metabolisme tubuh diperlukan usaha kerja pernapasan.
Pengendalian dan pengaturan pernapasan dilakukan
oleh sistem persyarafan, mekanisme kimia, dan mekanisme non kimia (Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran, 2008). Sistem syaraf secara normal mengatur kecepatan
ventilasi alveolus hampir sama dengan permintaan tubuh, sehingga tekanan O2
darah arteri (PO2) dan tekanan CO2 (PCO2)
hampir tidak berubah bahkan selama latihan sedang sampai berat dan kebanyakan
stress pernapasan lainnya (Fisiologi Kedokteran, 2005).
1. Pengendalian Pernapasan Oleh Sistem
Persarafan
Pengaturan pernapasan oleh persarafan dilakukan
oleh korteks cerebri, medulla oblongata, dan pons.
a. Korteks Cerebri
Berperan dalam pengaturan pernapasan yang
bersifat volunter sehingga memungkinkan kita dapat mengatur napas dan menahan
napas. Misalnya pada saat bicara atau makan.
b. Medulla oblongata
Terletak pada batang otak,
berperan dalam pernapasan automatik atau spontan. Pada kedua oblongata terdapat
dua kelompok neuron yaitu Dorsal Respiratory Group (DRG) yang
terletak pada bagian dorsal medulla dan Ventral Respiratory Group (VRG) yang
terletak pada ventral lateral medula. Kedua kelompok neuron ini berperan dalam
pengaturan irama pernapasan. DRG terdiri dari neuron yang mengatur
serabut lower motor neuron yang mensyarafi otot-otot inspirasi seperti otot
intercosta interna dan diafragma untuk gerakan inspirasi dan sebagian kecil
neuron akan berjalan ke kelompok ventral. Pada saat pernapasan kuat, terjadi
peningkatan aktivitas neuron di DRG yang kemudian menstimulasi untuk
mengaktifkan otot-otot asesoris inspirasi, setelah inspirasi selesai secara
otomatis terjadi ekspirasi dengan menstimulasi otot-otot asesoris.
Kelompol ventral (VRG)
terdiri dari neuron inspirasi dan neuron ekspirasi. Pada saat pernafasan tenang
atau normal kelompok ventral tidak aktif, tetapi jika kebutuhan ventilasi
meningkat, neuron inspirasi pada kelompok ventral diaktifkan melalui rangsangan
kelompok dorsal. Impuls dari neuron inspirasi kelompok ventral akan merangsang
motor neuron yang mensyarafi otot inspirasi tambahan melalui N IX dan N X.
Impuls dari neuron ekspirasi kelompok ventral akan menyebabkan kontraksi
otot-otot ekspirasi untuk ekspirasi aktif.
c. Pons
Pada pons terdapat 2 pusat pernapasan yaitu pusat
apneutik dan pusat pnumotaksis. Pusat apneutik terletak di formasio retikularis
pons bagian bawah. Fungsi pusat apneutik adalah untuk mengkoordinasi transisi
antara inspirasi dan ekspirasi dengan cara mengirimkan rangsangan impuls pada
area inspirasi dan menghambat ekspirasi. Sedangkan pusat pneumotaksis terletak
di pons bagian atas. Impuls dari pusat pneumotaksis adalah membatasi durasi
inspirasi, tetapi meningkatkan frekuensi respirasi sehingga irama respirasi
menjadi halus dan teratur, proses inspirasi dan ekspirasi berjalan secara
teratur pula.
2. Kendali Kimia
Banyak faktor yang mempengaruhi laju dan
kedalaman pernapasan yang sudah diset oleh pusat pernapasan, yaitu adanya
perubahan kadar oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen dalam darah arteri. Perubahan tersebut
menimbulkan perubahan kimia dan menimbulkan respon dari sensor yang disebut
kemoreseptor. Ada 2 jenis kemoreseptor, yaitu kemoreseptor pusat yang berada di
medulla dan kemoreseptor perifer yang berada di badan aorta dan karotid pada
sistem arteri.
a. Kemoreseptor
pusat, dirangsang oleh peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah arteri,
cairan serebrospinal peningkatan ion hidrogen dengan merespon peningkatan
frekuensi dan kedalaman pernapasan.
b. Kemoreseptor perifer, reseptor kimia ini peka
terhadap perubahan konsentrasi oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen.
Misalnya adanya penurunan oksigen, peningkatan karbon dioksida dan peningkatan
ion hidrogen maka pernapasan menjadi meningkat.
3. Pengaturan Oleh Mekanisme Non
Kimiawi
Beberapa faktor non kimiawi yang mempengaruhi
pengatuan pernapasan di antaranya : pengaruh baroreseptor, peningkatan suhu
tubuh, hormon epineprin, refleks hering-breuer.
a. Baroreseptor, berada pada sinus
kortikus, arkus aorta atrium, ventrikel dan pembuluh darah besar. Baroreseptor
berespon terhadap perubahan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah arteri
akan menghambat respirasi, menurunnya tekanan darah arteri dibawah tekanan
arteri rata-rata akan menstimulasi pernapasan.
b. Peningkatan suhu tubuh, misalnya karena
demam atau olahraga maka secara otomatis tubuh akan mengeluarkan kelebihan
panas tubuh dengan cara meningkatkan ventilasi.
c. Hormon epinephrin, peningkatan hormon
epinephrin akan meningkatkan rangsangan simpatis yang juga akan merangsang
pusat respirasi untuk meningkatkan ventilasi.
d. Refleks hering-breuer, yaitu refleks hambatan
inspirasi dan ekspirasi. Pada saat inspirasi mencapai batas tertentu terjadi
stimulasi pada reseptor regangan dalam otot polos paru untuk menghambat
aktifitas neuron inspirasi. Dengan demikian refleks ini mencegah terjadinya
overinflasi paru-paru saat aktifitas berat.
Yg Perlu di Perhatikan Dalam Pernafasan
Bayi baru lahir 40 - 60
x/menit.
•1 - 11 bulan 30x/menit
•2 tahun 25x/menit
•4 - 12 tahun 19 – 23x/menit
•14 - 18 tahun 16 -
18x/menit
•Dewasa 12 - 20x/menit
•Lansia ( >65 tahun )
Jumlah respirasi meningkat bertahap
Frekuensi Pernafasan Normal
Bayi baru lahir 40 - 60 x/menit.
•1 - 11 bulan 30x/menit
•2 tahun 25x/menit
•4 - 12 tahun 19 – 23x/menit
•14 - 18 tahun 16 - 18x/menit
•Dewasa 12 - 20x/menit
•Lansia ( >65 tahun ) Jumlah respirasi
meningkat bertahap
PERALATAN PENGUKURAN PERNAFASAN
- ARLOJI
TEHNIK PENGUKURAN PERNAFASAN
Mengkaji pernafasan dilakukan setelah menghitung
denyut nadi:
1.
Letakkan
tangan pasien menyilang di dada
2.
Observasi gerakan dinding dada saat inspirasi maupun
expirasi (satu kali exspirasi).
3.
Hitung jumlah
respirasi dalam 1 (satu) menit
4.
Catat hasil
yang diperoleh meliputi:
a.
Frekuensi
semenit
b.
Kelainan
gerakan dinding dada
TEKANAN DARAH
MEKANISME PENGATURAN TEKANAN DARAH
l kekuatan yg mendorong darah terhadap dinding
arteri
l Tekanan sistolik : tek pd dinding arteri saat
ventrikel kiri memompa darah mll aorta
l Tekanan diastolik : tekanan yg tjd ssat ventrikel
rileks, saat atrium menerima darah dr vena cava & vena pulmonalis
l Tekanan denyut/ pulse pressure : selisih antara
sistolik & diastolik, nilai normalnya 30-50 mm HG
Faktor- faktor yg mempertahankan tekanan darah
n Tahanan perifer
gesekan
aliran darah thdp pembuluh darah
n Volume darah
n Kekuatan pemompaan jantung
jk
kekuatan kontraksi ventrikel kiri kuat maka jlh darah yg dipompakan meningkat
n Viskositas darah
n Elastisitas pembuluh darah
Bunyi korotkoff
Bunyi auskultasi yg terdengar di atas arteri
Saat katub dibuka & tekanan manset menurun
arteri membuka yg menimbulkan bunyi yg memungkinkan perawat membedakan tekanan
darah arteri
n Bunyi pertama : pukulan berirama jelas,
intensitas meningkat perlahan. Tekanan sistol adalah penilaian saat
bunyi pertama terdengar
n Bunyi kedua : pergolakan saat pebuluh
mengembang & darah tertahan membentuk getaran pd dinding pembuluh
n Bunyi ketiga:gerakan darah dlm pembuluh
darah
n Bunyi keempat : bunyi teredam, saat
tekanan manset menurun di bawah tekanan darah
n Bunyi kelima : bunyi menghilang, pengukuran
diastol adalah pengukuran pd titik yg menghilang
……………………………………..
PERALATAN PENGUKURAN TEKANAN DARAH
SPIGMOMANOMETER (AIR RAKSA,
ANEROID, DIGITAL)
CUFF DAN POMPA
STETOSKOP
TEHNIK PENGUKURAN TEKANAN
DARAH
1. Atur posisi klien, dimana
posisi lengan yg akan diukur tekanan darah sejajar dg jantung
2. Perawat menempatkan diri
sehingga dapat membaca meniscus air
raksa sejajar dg garis mata
3. Pasang manset tekanan
darah
a. lengan atas: bungkus dengan komplit menset tekanan
darah scara pas dan lembut disekeliling kira-kira 1 inchi/3 jari diatas ruang
antecubital dan bagian tengah dari kantong udara seharusnya secara langsung
diatas arteri brachialis.
b. kaki: bungkus menset di bagian paha dengan bagian
bawah dari menset 1 inchi diatas lutut. Prosedur pengukuran BP pada kaki sama
dengan pengukuran BP pada lengan kecuali suara korotkoff seharusnya diaukulasi
diatas arteri poplitea
4. Perkirakan tekanan darah
sistol dengan palpasi
a. Palpasi arteri radial dengan penekanan jari pada
tenganmu. Pompa menset ketika palpasi secara stimultan pada arteri. Tutup katup
pompa dengan memutar searah jarum jam diantara ibu jari dan jari yang pertama
dari tangan dan kemudian tekan pentolannya. Catat poin pada manometer dimana
pulsasi arteri radial tidak sama terpalpasi.
b. Turunkan air raksa dan tunggu 30 detik
c. Pompa menet 20 mmHg diatas poin tersebut ketika
pengukuran aulkutasi tekanan darah.
5. Aulkutasi tekanan darah
a. Temukan arteri brachial
dengan palpasi. Tempatkan diagram atau bell dari stetoskop diatas dari arteri
brachial.
b. Pompa menset, tutup katup pompa dengan memutar
searah jarum jam diantara ibu jari dan jari yang pertama dari tangan mud an
kemudian tekan pentolannya, perlahan kempeskan menset ketika auskultasiarteri
brachial. Kempeskan menset pada kecepatan 2s/d 3 mmHg perdetik dengan memutar
katup ponpa air berlawanan dengan arah jarum jam.
c. Catat suara
kortkoff dan pembacaan manometer ketika suara kortkoff pertama terdengar. Ini
adalah tekanan darah sistol. Baca tekanan darah diastole pada poin dimana suara
menjadi menghilang.
PEMERIKSAAN
FISIK HEAD TO TOE
PERALATAN
- Lampu senter
- Pinset anatomi / chirugi
- Ophtalmoskope
- Sarung tangan
- Otoskope
- Spatel lidah
- Tonometer
- Kassa steril
- Meteran
- Timbangan berat badan
- Refleks hammer
- Pena / alat tulis
- Garpu tala
- Buku catatan perawat /
- Spekulum hidung
- Snellen Cart
- Sketsel
- Selimut
Tonometer Otoskop

Reflek hamer
Garpu tala
snellen card
opthalmoscope
TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE
1. KEPALA
INSPEKSI
a)
Bentuk kepala klien (bulat / lonjong / benjol, besar /
kecil, simetris / tidak)
-Kulit kepala (ada luka / tidak, bersih / kotor, beruban/tidak,
ada ketombe/tidak, ada kutu/tidak)
-Rambut Klien:
·
Penyebaran /
pertumbuhan (rata / tidak)
·
Keadaan rambut
(rontok, pecah-pecah, kusam)
·
Warna rambut
(hitam, merah, beruban, atau menggunakan cat rambut)
·
Bau rambut
(berbau/tidak), bila berbau apa penyebabnya.
-Wajah klien:
·
Warna kulit wajah (pucat / kemerahan / kebiruan)
·
Struktur wajah (simetris/tidak), dan adakah kesan sembab.
PALPASI
- Ubun-ubun (datar / cekung / cembung)
- Adakah benjolan
2.
MATA
- Inspeksi kelengkapan dan kesimetrisan mata klien (lengkap / tidak simetris / tidak)
- Inspeksi dan palpasi kelopak mata / palpebra :
-
Adakah edema
-
Adakah
peradangan, lesi, dsb.
-
Adakah
benjolan
-
Adakah ptosis,
strabismus
-
Amati bulu mata (rontok / tidak, kotor / bersih)
- Tarik kelopak mata bagian bawah dan amati konjungctiva (pucat/tidak), sclera (kuning / tidak) dan adakah peradangan pada konjunctiva (warna kemerahan)
- Inspeksi pupil :
- Bagaimana refleks pupil terhadap cahaya (baik /
tidak)
- Apakah besarnya sama dan bulat?
- Pupil mengecil / melebar
- Inspeksi kornea dan iris :
- Adakah peradangan
- Bagaimana gerakan bola
mata (normal / tidak)
- Lakukan test ketajaman penglihatan dengan menggunakan kartu snellen dan tentukan ketajaman penglihatan klien bandingkan dengan mata normal*)
- Ukur tekanan bola mata klien, dengan menggunakan tonometer (bila perlu)
- Lakukan test luas lapang panjang
3.
HIDUNG
a)
Amati : Tulang
hidung dan posisi septum nasi / lubang hidung (ada pembengkakan / tidak)
b)
Amati : Lubang
hidung (ada sekret / tidak, ada sumbatan / tidak, selaput lendir: kering/basah
atau lembab) kalau perlu gunakan speculum hidung untuk membuka cuping hidung.
c)
Palpasi sinus maksilaris, frontalis dan etmoidalis
(perhatikan nyeri tekan)
- TELINGA
a)
Inspeksi dan
palpasi :
- Bentuk telinga (simetris / tidak)
- Ukuran telinga (lebar / sedang
/ kecil)
- Ketegangan daun telinga
b) Inspeksi lubang pendengaran eksternal dengan cara
berikut:
- Pada orang dewasa, pegang daun telinga/ heliks dan
perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas dan ke belakang sehingga lurus dan
menjadi mudah diamatai.
- Pada anak-anak, tarik daun telinga ke bawah.
b)
Amati lubang telinga (kalau perlu gunakan otoskope)
- Ada serumen / tidak
- Ada benda asing / tidak
- Ada perdarahan / tidak
- Membran telinga : utuh / pecah
c)
Kalau perlu
lakukan test ketajaman pendengaran Pemeriksaan pendengaran
- Menggunakan bisikan
1. Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada
jarak 4-6 m.
2. Instruksikan klien untuk menutup salah satu
telinga yang tidak diperiksa
3. Bisikkan suatu bilangan,
misal ”tujuh enam”
4. Minta klien untuk
mengulangi bilangan yang didengar
5. Periksa telinga lainnya
dengan cara yang sama
6. Bandingkan kemampuan
mendengar telinga kanan dan kiri klien.
- Menggunakan arloji
1. Ciptakan suasana ruangan
yang tenang
2. Pegang arloji dan
dekatkan ke telinga klien
3. Minta klien untuk memberi
tahu pemeriksa jika ia mendengar detak arloji
4. Pindahkan posisi arloji
perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta klien untuk memberitahu pemeriksa
jika ia tidak mendengar detak arloji. Normalnya klien masih mendengar sampai
jarak 30 cm dari telinga.
- Menggunakan garpu talla
a. Pemeriksaan Rinne
1. Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke
telapak tangan atau buku jari tangan yang berlawanan
2. Letakkan tangkai garpu talla pada prosesus mastoideus
klien
3. Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia
tidak merasakan getaran lagi
4. Angkat garpu talla dan dengan cepat tempatkan di depan
lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu talla paralel terhadap lubang
telinga luar klien
5. Instruksikan klien untuk memberitahu apakah ia masih
mendengar suara atau tidak
6. Normalnya suaramasih terdengar, uji pada telinga
sebelahnya.
7. Catat hasil pendengaran pemeriksaan tersebut
b. Pemeriksaan Weber
1. Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke
telapak tangan atau buku jari tangan yang berlawanan
2. Letakkan tangkai garpu talla di tengah puncak kepala
klien
3. Tanyakan kepada klien apakah bunyi terdengar sama
jelas pada kedua telinga atau lebih jelas pada salah satu telinga
4. Catat hasil
pemeriksaan pendengaran tersebut.
Strabismus

Ptosis Reaksi
pupil
Area pemeriksaan sinus pemeriksaan rinne
Pemeriksaan Weber
- MULUT DAN FARING
a)
Inspeksi
keadaan bibir klien:
- Cyanosis / tidak
- Kering / tidak
- Ada luka tidak
- Adakah labioschizis (sumbing)
b)
Inspeksi keadaan gusi dan gigi.
Anjurkan klien membuka mulut:
- Normal / tidak (Apa kelainannya)
- Sisa-sisa makanan (ada / tidak), jelaskan
lebarnya, keadaannya sejak kapan terjadi.
- Caries / lubang gigi (ada / tidak), jelaskan
lebarnya, keadaannya, sejak kapan terjadi.
- Karang gigi (ada / tidak),
jelaskan sumber perdarahan, banyaknya dsb.
- Abses (ada / tidak),
jelaskan sejak kapan, apa penyebabnya, lokasinya dimana.
c)
Inspeksi
keadaan lidah:
- Warna lidah (merah/putih,
warna merata / tidak)
- Apakah tampak kotor, ada
bercak-bercak putih/tidak.
- Normal / tidak.
d)
Anjurkan klien
membuka mulut, kalau perlu tekan dengan menggunakan spatel lidah yang telah
dibalut kassa dan amati orofarings (rongga mulut):
- Perhatikan bau nafas (berbau
/ tidak)
- Ada peradangan / tidak
- Adakah kelainan (labiopalatoschizis)
- Ada luka / tidak
- Perhatikan uvula (simetris / tidak)
- Perhatikan tonsil (ada
peradangan / tidak, ada pembesaran / tidak)
Pembesaran tonsil dinyatakan dengan
·
T 0 = tonsil tidak ada/sudah dioperasi
·
T 1 = ukuran
normal
·
T 2 =
pembesaran tidak sampai garis tengah
·
T 3 =
pembesaran sampai garis tengah
·
T 4 =
pembesaran melewati garis tengah
- Perhatikan selaput lendir (kering / basah)
- Adakah perubahan suara
- Adakah dahak / lendir yang menutup
- Ada benda asing / tidak
- LEHER
a)
Inspeksi dan
palpasi :
- Posisi trahea : simetris / tidak
- Ada pembesaran kelenjar tiroid / tidak
b)
Perhatikan
adakah perubahan suara dan cari penyebabnya
c)
Inspeksi dan
palpasi:
- Adakah pembesaran / pembengkakan kelenjar limfe
(terutama pada leher, sub mandibula dan sekitar telinga)
d)
Inspeksi dan
palpasi:
- Ada pembesaran vena jugularis / tidak
- Raba denyut nadi carotis (bila perlu)

Pemeriksaan mulut Area
kelenjar limfe

Pemeriksaan kelenjar limfe Pemeriksaan tiroid
- DADA
PARU - PARU
1)
Lakukan
inspeksi, tentang
- Bentuk thoraks : apakah normal, terdapat pigeon
chest, funnel chest, barrel chest
- Pernafasan pasien: frekuensi, adanya tanda-tanda
dispneu: retraksi intercostae, retraksi suprasternal, pernafasan cuping hidung,
ortopnea.
- Pola nafas, adakah pola nafas biot, kusmaul,
cheine stoke
- Cyanosis.
- Batuk: apakah produktif,
kering, whooping.
2)
Lakukan
Palpasi :
- Menggunakan seluruh telapak tangan
- Tentukan lokasi Landmarkk pd area thorax
- Mintalah pasien menarik nafas dalam, observasi
gerakan ibu jari untuk megukur ekspansi pernafasan
- Menilai getaran suara : VOCAL VREMITUS pada
thorax anterior dan posterior
Tujuan : Membandingkan
bagian mana yang lebih bergetar atau kurang bergetar
Bergetar: terjadi pemadatan
jaringan, paru seperti pnemoni, keganasan.
Kurang bergetar: pleura effusion, pnemithoraks.
- Cara : merasakan getaran dinding dada sewaktu
klien mengucapkan “TUJUH PULUH TUJUH”
3)
Lakukan
perkusi
- Cara: tangan kiri menempel pada celah intercosta,
jari tangan kanan mengetuk jari tangan kiri. Perkusi dilakukan dengan cara
membandingkan kiri dan kanan pada permukaan thorak. Arah tangan pemeriksa dalam
melakukan perkusi sama dengan dalam melakukan palpasi.
- Perkusi pertama dilakukan di atas klavikula
Dengarkan : apakah terjadi
suara resonan (sonor). Dullnes (pekak), timpani, hiper resonan.
Suara paru yang normal :
resonan / sonor.
4)
Lakukan
auskultasi
- Cara: Anjurkan klien bernafas cukup dalam,
periksa dengan stetoskop dari atas ke bawah, bandingkan antara paru-paru kiri
dan kanan.
- Dengarkan:
*) Suara
nafas :
- Bronkial / tubular: pada trakea / leher
- Bronko vesikuler: pada daerah percabangan
bronkhus trakea (sekitar sternum)
- Vesikuler: pada semua
lapangan paru.
Suara nafas ini adalah suara nafas normal.
*) Suara
ucapan:
- Anjurkan klien mengucapkan “tujuh puluh tujuh”
berulang-ulang, setiap setelah inspirasi secara berbisik dengan intonasi sama
kuat.
- Dengan stetoskop dengarkan
di semua lapangan paru dengan membandingkan kiri dan kanan.
- Normal : intensitas dan kualitas suara di kiri
dan kanan sama.
- Kelainan pada suara ucapan:
· BRONKHOPONI : Suara terdengar jelas ucapannya dan
lebih keras dibandingkan daerah sisi lain.
· PECTORYLOQUY : Suara terdengar jauh, dan tidak
jelas.
·
EGOPONY : Suara bergema seperti orang yang hidungnya
tersumbat (bindeng), suara terdengar “dekat”
*) Suara
tambahan :
- Dengarkan, apakah terdapat suara nafas tambahan
pada klien, seperti rales, ronchi, wheezing, pleural friction rub.
- Dalam keadaan normal, tidak
terdapat suara nafas tambahan.
- RALES : berupa rales halus
(bunyi: merintik halus), rales : sedang dan kasar. Rales : tidak hilang apabila
klien disuruh batuk, terdengar pada fase inspirasi.
- RONCHI: nada rendah, sangat
kasar, akibat dari terkumpulnya cairan mukus pada trachea / bronchus besar.
Terdengar pada fase inspirasi dan ekspirasi. Hilang apabila klien disuruh batuk.
- WHEEZING : bunyi ngiii….ik / ngiiiik !!! terjadi
karena eksudat lengket tertiup aliran udara atau penyempitan bronkhus.
Terdengar pada fase
inspirasi dan ekspirasi
- PLEURAL FRICTION RUB :
Bunyi yang terdengar
“kering” seperti suara gosokan amplas pada kayu. Gesekan terjadi antara
jaringan paru dengan pleura bagian visceral.

pigeon chest
barrel chest

funnel chest palpasi thorax posterior

Biot
Kusmaul
Cheine stoke
Normal


Palpasi thorak anterior
pemeriksaan taktil vremitus
perkusi paru
JANTUNG
Inspeksi dan palpasi prekordium
- Atur posisi klien terlentang
dengan kepala diangkat 30-40o
- Letakkan tangan pada ruang
intercosta II (area aorta dan pulmonal), lalu amati ada atau tidaknya PULSASI. Normal : pulsasi tidak ada.
- Geser tangan ke ruang
intercosta V kiri di sisi sternum (area tricuspid / ventrikel kanan).
Amati adanya PULSASI. Normal : pulsasi tidak ada.
- Dari area tricuspid, geser tangan ke samping ke
arah midclavicula kiri (area apical / PMI) = Point of Maximal Impulse.
- Amati adanya ICTUS CORDIS (denyutan dinding
thorak karena pukulan pada vertikel kiri)
Normal : Ictus Cordis berada
pada ICS V pada linea midclavicula kiri selebar 1 cm. Pembesaran jantung: Ictus
Cordis bisa sampai ke linea aksillaris anterior kiri.
PERKUSI
Perkusi jantung untuk
mengetahui gambaran ukuran dan bentuk jantung
Perkusi pada jantung
menghasilkan suara redup
AUSKULTASI
Dengarkan BJ I pada :
- ICS IV linea sternalis kiri
(katub I tricuspidalis)
- ICS V, linea midclavicula
atau apeks (katub mitral)
Dengarkan BJ II pada :
- ICS II linea sternalis kanan (katub II aorta)
- ICS II linea sternalis kiri atau ICS III linea
sternalis kanan (katub II pulmonal)
Dengarkan BJ III (kalau ada)
- Terdengar di daerah mitral
- BJ III terdengar setelah BJ II dengan jarak cukup
jauh, tetapi tidak melebihi separo dari fase diastolik, nada rendah.
- Pada anak-anak dan dewasa muda, BJ III adalah
normal
- Pada orang dewasa / tua yang disertai tanda-tanda
oedem / dispneu, BJ III merupakan tanda ABNORMAL. BJ III pada decomp. Kiri
disebut Gallop Rhythm. Gallop Rhythm BJ III yang timbul akibat getaran derasnya
pengisian diatolik dari atrium kiri ke ventrikel kiri yang sudah membesar,
darah “jatuh” ke ruang lebar, kemudian timbul getaran.
Dengarkan adanya MURMUR
(bising jantung)
Murmur adalah suara tambahan
pada fase sistolik, diastolik atau keduanya, yang disebabkan karena adanya
fibrasi / getaran dalam jantung atau pembuluh darah besar yang disebabkan oleh
arus turbulensi darah.
Derajat murmur :
I.
Hampir tidak
terdengar
II.
Lemah
III.
Agar keras
IV.
Keras
V.
Sangat keras
VI.
Sampai stetoskop diangkat sedikit, masih terdengar jelas.


Palpasi lokasi PMI
lokasi BJ I dan BJ II
- PERUT
1)
Melakukan
inspeksi, amati adanya:
- Bentuk abdomen (buncit ,datar)
- Benjolan / massa : bila ada
benjolan, catat bentuk dan lokasinya
- Bayangan pembuluh darah vena
di kulit abdomen
2)
Melalui auskultasi,
periksalah adanya:
Gunakan bagian bell stetoskop untuk mendengarkan
suara pembuluh darah dan bagian diafragma untuk mendengarkan suara usus. stau
bising usus. Suara peristaltic normal terdengar 5 – 20 detik dengan durasi sekitar 1
detik.
3)Lakukan perkusi:
1. PERKUSI BATAS HATI
1. Posisi pasien tidur
terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien
2. lakukan perkusi pada
garis midklavikular kanan setinggi umbilikus, geser perlahan keatas, sampai
terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati
tersebut.
3. Ukur jarak antara
subcostae kanan kebatas bawah hati.
Batas hati bagian bawah
berada ditepi batas bawah tulang iga kanan.Batas hati bagian atas terletak
antara celah tulang iga ke 5 sampai ke 7. Jarak batas atas dengan bawah hati
berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu
berkisar 2 – 3 sentimeter
2. PERKUSI LAMBUNG
1. Posisi pasien tidur
terlentang
2. Pemeriksa disamping kanan
dan menghadap pasien
3. Lakukan perkusi pada tulang
iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri.
4. Gelembung udara lambung
bila di perkusi akan berbunyi timpani
3. PERKUSI GINJAL
1. Posisi pasien duduk atau
berdiri.
2. Pemeriksa dibelakang
pasien
3. Perkusi sudut
kostovertebral di garis skapular dengan sisi ulnar tangan kanan
4. Normal perkusi tidak
mengakibatkan rasa nyeri.
·
Cek ada
tidaknya cairan / ascites
- Atur posisi pasien terlentang
- Perkusi dimulai dari bagian tengah abdomen menuju
dinding lateral abdomen. Perubahan suara dari timpani ke dullness (pekak),
merupakan batas cairan pada abdomen.
- Ubah posisi pasien ke posisi
miring (cairan akan pindah ke bawah). Lakukan perkusi pada kedua bagian lateral
abdomen. Bila terdapat cairan akan didapatkan: Daerah sisi lateral abdomen yang
semula pekak akan berubah menjadi tympani, sedangkan bagian lateral lainnya
berubah menjadi pekak. Keadaan ini disebut SHIFTING DULLNES, yaitu bunyi
perkusi pekak yang bisa dihilangkan dengan perubahan posisi.
4)Lakukan palpasi
Tujuan :
• Mengetahui ketegangan otot
abdoment
• Mengetahui lokasi nyeri
abdomen
• Mengetahui ukuran,
kondisi, & konsistensi organ abdominal
Normal: abdomen lembut,
rectus muscle relaks dan tidak ada keluhan ketidaknyamanan selama palpasi
Palpasi Hepar :
Letakkan tangan kiri di belakang pinggang menyangga
kosta ke 11 & 12 dengan posisi sejajar dengan kosta, ajurkan pasien untuk
rileks, tangan kanan mendorong hepar ke atas dan kedalam dengan lembut
Anjurkan pasien inspirasi dalam & rasakan sentuhan
hepar saat inspirasi, jika teraba sedikit kendorkan jari & raba permukaan
anterior hepar
Normal hepar : lunak tegas, tidak berbenjol-benjol
Palpasi Lien :
o Letakkan tangan kiri
menyangga & mengangkat kosta ke 11& 12 bagian bawah sebelah kiri pasien
o Tangan kanan diletakkan di
bawah arcus costa, lakukan tekanan kearah lien
o Anjurkan pasien untuk
inspirasi dalam & rasakan sentuhan lien pada ujung jari, perhatikan apakah
ada nyeri tekan, bagaimana permukaannya, perkirakan jarak antara lien dengan
batas terendah dari kosta kiri terbawah.
Palpasi Ginjal :
a. Ginjal kanan :
Letakkan tangan kiri di pinggang pasien, paralel pada
kosta ke 12, dengan ujung jari anda menyentuh sudut kostovertebral
Angkat dan dorong ginjal kanan ke depan
Letakkan tangan kanan di kuadran kanan atas di sebelah
lateral sejajar terhadap otot rektus, anjurkan pasien untuk nafas dalam
Waktu puncak inspirasi tekanlah tangan kanan anda
dalam-dalam ke kuadran kanan atas, dibawah arcus costa & cobalah untuk
”menangkap” ginjal di kedua tangan kanan & rasakan bagaimana ginjal kembali
ke posisi waktu ekspirasi, apabila ginjal terab tentukan ukurannya, ada
tidaknya nyeri tekan
b. Ginjal kiri :
o Gunakan tangan kanan untuk
menyangga & mengangkat dari belakang
o Tangan kiri untuk meraba
pada kauadran kiri atas, lakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan ginjal kanan


Titik Mc Burney Perkusi
abdomen

Palpasi ginjal Perkusi
untuk mengetahui acites

- ALAT KELAMIN
a.
Lakukan pemeriksaan alat kelamin dan daerah sekitarnya
Siapkan posisi klien sesuai dengan kebutuhan
1)
Genetalia laki-laki (bila klien laki-laki)
a)
Inspeksi : -Penyebaran dan kebersihan rambut pubis
-Kulit penis dan scrotum: adakah
lecet, ulkus, lesiu, pembengkakan dan benjolan
-Lubang urethra: adakah stenosis
(penyempitan/sumbatan), adakah keluar cairan yang abnormal (nanah, darah, dsb)
b)
Palpasi : -Adakah tonjolan / kelainan pada penis,
scrotum dan testis
- Adakah pembengkakan / peradangan pada daerah
inguinal, dan raba denyut arteri femoralis (bila perlu).
2)
Genetalia wanita (bila klien wanita) :
a)
Inspeksi : - Banyak dan kebersihan rambut pubis
- Kulit
sekitar pubis : adakah lesi, erythema, lecet, keputihan, perlukaan, bisul dsb.
- Regangkan
labia majora dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk kiri (yang
dibungkus), kemudian amati: bagian dalam labia majora dan minora, adakah lecet,
luka dan tanda-tanda peradangan.
- Klitoris
: ada lesi / tidak
- Lubang
urethra : adakah tanda-tanda peradangan dan stenosis (sumbatan)
- Adakah
perdarahan yang abnormal, dan cari penyebabnya.
Palpasi
:-Daerah inguinal (lipat paha): adakah benjolan / pembengkakan / peradangan dan
raba denyut nadi femoralis.


Palpasi region inguinal
- MUSKULOSKELETAL
1)
Lakukan
inspeksi terhadap :
- Struktur dan bentuk tulang leher, tulang
belakang, ekstremitas atas dan bawah, amati adakah kelainan seperti skoliosis,
lordosis, kiposis, dll.
- Ukuran, tonus, kekuatan dan
kesimetrisan otot
Uji Kekuatan otot
Nilai 1 : Tampak
berkontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh.
Nilai 2 : Mampu
menahan tegak / menahan gravitasi, tapi dengan sentuhan akan jatuh.
Nilai 3 : Mampu
menahan tegak, walaupun sedikit didorong, tapi tidak mampu melawan tekanan/
dorongan dari pemeriksa.
Nilai 4 : Seluruh
gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat dan juga melawan tahanan ringan
dan sedang
Nilai 5 : Seluruh
gerakan dapat dilakukan otot tersebut dengan tahanan maksimal dari pemeriksa
tanpa adanya kelelahan.
- Persendian dan pergerakan sendi (ROM)
- Pergerakan otot yang
disadari atau tidak disadari
- Range of motion dan persendian.
- Gaya jalan genu valgum (x),
genu varum (o)
- Amati kesimetrisan otot:
bandingkan kesimetrisan tungkai kanan dan kiri: besar otot, panjang otot.
- INTEGUMEN
Inspeksi
1)
Kebersihan
kulit pasien
2)
Kelainan-kelainan
pada kulit seperti macula, erythema, pappula, vesikula, pustula, ulkus, crusta,
ekscoriasi, fissura, cicatrix, ptechie, hematoma, naevus, pigmentosus,
hiperpigmentasi, vitiligo, hemangioma, spider nevi, lichenifikasi., striae,
uremic frost, anemi, cyanosis, ikterus.
3)
Bentuk kuku
Palpasi :
1)
Kehangatan dan
kelembapan kulit
2)
Turgor kulit
dengan cubitan ringan
3)
Edema

Vitiligo Spider
nevi

Pustule Vesikel
Clubbing finger beau
line
- NEUROLOGI
Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran
dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran
dibedakan menjadi :
- Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
- Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
- Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
- Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
- Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
- Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya)
Lakukan perhitungan tingkat kesadaran klien
dengan menggunakan alat: Glascow Come Scale (GCS).
a)
Berapa nilai /
score untuk tanggap / reaksi mata
Nilailah 4 bila :Klien dapat membuka mata secara
spontan/tanpa disuruh
Nilailah 3 bila : Klien
dapat membuka mata sesuai dengan perintah
Nilailah 2 bila : Klien
dapat membuka mata dengan rangsangan nyeri
Nilailah 1 bila : Tidak
ada reaksi sama sekali
b)
Berapa nilai / score untuk tanggap / reaksi bicara
Nilailah 5 bila : Klien
mempunyai orientasi baik, terhadap orang, tempat, waktu.
Nilailah 4 bila : Klien
dapat bicara tetapi membingungkan (kalimat dan kata-kata baik tetapi hubungan
dengan pertanyaan tidak baik).
Nilailah 3 bila : Klien
dapat bicara tetapi lebih membingungkan lagi, kalimat tidak tersusun dengan
baik walau kata-katanya terbaca.
Nilailah 2 bila : Klien
hanya dapat mengguman saja (masih keluar suara / nada)
Nilailah 1 bila : Klien
diam (tidak ada suara)
c)
Berapa nilai /
score untuk tanggap / reaksi motorik
Nilailah 6 bila : Klien
dapat mengikuti perintah dengan baik
Nilailah 5 bila : Klien
dapat menjalankan perintah dan gerakan hanya melokalisir rangsangan (menolak cubitan)
Nilailah 4 bila : Diberi
rangsangan klien hanya menghindar / tanpa penolakan
Nilailah 3 bila : Diberi
rangsangan klien melakukan gerakan refleks.
Nilailah 2 bila : Diberi rangsangan klien melakukan gerakan
ekstensi saja.
Nilaiah 1 bila : Tidak ada gerakan sama sekali
1)
Tanda-tanda rangsangan otak / meningeal sign :
- Kaku kuduk : Untuk
memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb: Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah
kepala pasien yang sedang berbaring, kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan
diusahakan agar dagu mencapai dada. Selama penekukan diperhatikan adanya
tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat
mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat
- Kernig sign :
Pada pemeriksaan ini , pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90°. Setelah itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135°
terhadap paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari
sudut 135°, maka dikatakan Kernig sign positif.
- Brudzinski I (Brudzinski’s
neck sign)
Pasien berbaring dalam sikap
terlentang, dengan tangan yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang
berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien
untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga
dagu menyentuh dada. Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul
dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara
reflektorik.
- Brudzinski II
(Brudzinski’s contralateral leg sign)
Pasien berbaring terlentang.
Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut, kemudian tungkai
atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila timbul gerakan secara reflektorik
berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul.
Tes Brudzinski II
2)
Syarat cranial
(Nervus Cranialis)
a)
Uji Nervus
Olfaktorius (pembau), dengan menggunakan bau-bauan (kopi, tembakau, jeruk,
minyak kayu putih) dengan cara: anjurkan klien menutup mata dan uji satu
persatu lubang hidung klien, dan anjurkan klien untuk mengidentifikasi
perbedaan bau-bauan yang diberikan.
b)
Uji Nervus
Opticus (penglihatan), dengan menggunakan Snellen Chart pada jarak 5 meter, dan
bila perlu periksa luas lapang pandang klien dengan cara jalankan sebuah benda
yang bersinar dari samping belakang ke depan (kiri-kanan) dan dari atas ke
bawah.
c)
Uji Nervus
Oculomotorius dengan cara: tatap mata klien dan anjurkan klien untuk
menggerakkan mata dari dalam ke luar. Dan dengan menggunakan lampu senter diuji
reaksi pupil dengan memberi rangsangan sinar kedalamnya.
d)
Uji Nervus
Trochlearis (gerakan bola mata) dengan cara: anjurkan klien melihat ke bawah dan
ke samping (kiri-kanan) dengan menggerak-gerakkan tangan pemeriksa.
e)
Uji Nervus Trigenimus (sensansi kulit wajah) :
·
cabang dari optalmikus dengan cara: anjurkan klien
melihat ke atas, dengan menggunakan kapas halus sentuhkan pada kornea samping
untuk melihat refleks kornea (perhatikan refleks berkedip klien). Dan untuk
sensasi kulit wajah gunakan kapas dan usapkan pada dahi dan paranasalis klien.
·
Cabang dari
maksilaris dengan cara: gunakan kapas sentuhkan pada wajah klien, dan uji
kepekaan lidah dan gigi.
·
Cabang dari
mandibularis dengan cara: anjurkan klien untuk menggerakkan / mengatupkan
rahangnya dan memegang giginya, dan untuk sensasi kulit wajah gunakan kapas dan
sentuhkan pada kulit wajah.
f)
Uji Nervus
Abdusen (gerakan bola mata ke samping) dengan cara: anjurkan klien melirik ke
samping kiri / kanan dengan bantuan tangan perawat.
g)
Uji Nervus
Facialis, dengan cara: anjurkan klien untuk tersenyum, mengangkat alis,
mengerutkan dahi, dan dengan menggunakan garam dan gula uji rasa 2/3 lidah
depan klien, dengan cara anjurkan klien menutup mata dan tempatkan pada ujung
dan sisi lidah: garam, gula, jeruk, anjurkan klien mengidentifikasi rasa
tersebut.
h)
Uji Nervus
Auditorius, kalau perlu gunakan garpu tala untuk menguji pendengaran klien.
Untuk menguji keseimbangan klien anjurkan klien untuk berdiri (bila mampu) dan
menutup mata beberapa detik, perhatikan keseimbangan klien.
i)
Uji Nervus
Glossoparingeal (menelan, gerakan lidah, rasa lidah depan), dengan cara:
anjurkan klien untuk menggerakkan lidah dari sisi ke sisi, atas ke bawah secara
berulang-ulang.
Untuk uji rasa, seperti di
atas
j)
Uji Nervus Vagus (sensasi farings - larings, menelan dan
gerakkan pita suara), bersamaan dengan pengujian N Ix di atas, perhatikan suara
klien, adakah perubahan.
k)
Uji Nervus Accesarius (gerakan kepala dan bahu): Anjurkan
klien untuk menggeleng dan menoleh ke kiri – kanan, dan anjurkan klien
mengangkat salah satu bahunya ke atas dan beri tekanan pada bahu tersebut untuk
mengetahui kekuatannya.
l)
Uji Nervus Hypoglosal (tonjolan lidah): Anjurkan klien
untuk menjulurkan dan menonjolkan lidah pada garis tengah, kemudian dari sisi
ke sisi.
3)
Fungsi Motorik
a)
Perhatikan /
amati: ukuran otot (ada atropi / tidak)
b)
Lakukan uji
kekuatan otot-otot tungkai dan lengan dengan cara: anjurkan klien untuk menekuk
atau meluruskan lengan / tungkainya dan berikan suatu tahanan dengan cara
melawan aksi yang dilakukan klien.
c)
Amati /
perhatikan : adakah gerakan-gerakan yang tidak disadari / tidak disengaja oleh
klien.
4)
Fungsi
Sensorik :
a)
Anjurkan klien
menutup matanya, dan dengan menggunakan segumpal kapas, usapkan kulit: wajah,
lengan atau tungkai dan anjurkan klien untuk berespon dengan mengatakan ya /
merasa (untuk menguji syaraf perifer).
b)
Anjurkan klien
menutup matanya dan dengan menggunakan peniti / benda tajam lain, sentuhan pada
kulit dan anjurkan klien untuk berespon dengan mengatakan tajam / tumpul / atau
tidak tahu (tidak merasa).
c)
Dengan
menggunakan garpu tala lakukan test getaran posisi dengan cara: bunyikan garpu
tala dan tempelkan pada tulang (pergelangan kaki, lutut, sisi ibu jari sampai
pergelangan tangan dan bagian luar siku; dan juga pada tempat lain).
Anjurkan klien menutup mata dan berespon dengan
mengatakan ya / merasa ketika merasakan getaran pertama dan mengatakan tidak
merasa / telah selesai ketika getaran berhenti.
d)
Dengan
menggunakan tabung yang diisi air panas dan dingin lakukan test sensasi
temperature dengan cara: anjurkan klien menutup mata dan sentuhkan tabung yang
telah diisi dengan air panas dan dingin, dan anjurkan klien berespon dengan
mengatakan: panas / dingin / tidak tahu (test ini untuk membuktikan bila
sensasi nyeri tidak normal atau tidak ada sensibilitas).
e)
Dengan
menggunakan satu dan dua peniti lakukan test perbedaan ketajaman indera perasa
dengan cara: anjurkan klien menutup mata dan sentuhkan secara berulang (dengan
hati-hati) pada kulit dengan dua peniti kemudian dengan satu peniti dan
anjurkan klien mengatakan mana yang lebih tajam, satu tusukan atau dua tusukan.
5)
Refleks
Kedalaman Tendon
a)
Refleks
Fisiologis
1)
Refleks
Pectoralis:
- Atur lengan semi abduksi, lakukan perkusi pada
lipatan tendon anterior axilla, dan perhatikan reaksi yang terjadi.
2)
Refleks
biceps:
- Atur lengan klien dengan fleksi – pronasi, pegang
siku klien dan lakukan perkusi pada insersio Musculus Biseps Brachi, perhatikan
gerakan / reaksi yang terjadi.
3)
Refleks
triceps:
- Fleksikan lengan klien pada siku dan letakkan
tangan klien pada lengan bawah anda. Lakukan perkusi pada insersio Musculus
Triseps Brachi dan perhatikan gerakan / reaksi yang terjadi.
4)
Refleks
Brachiradialis:
- Letakkan lengan bawah klien pada abdomen atau
samping klien dengan rileks dan lakukan perkusi pada radius 2-5 cm dari
pergelangan, dan perhatikan gerakan / reaksi yang terjadi.
5)
Refleks
fleksor jari-jari:
- Pegang pergelangan tangan klien, anjurkan rileks,
letakkan jari-jari anda di atas jari-jari klien, dan lakukan perkusi di atas
jari-jari anda. Lihat reaksinya.
6)
Refleks
patella:
- Atur tungkai klien semi fleksi dan terayun
(dangling), lakukan perkusi pada tendon patella, dan perhatikan gerakan /
reaksi yang terjadi.
7)
Refleks
achiles:
- Tumit dalam keadaan rileks dan kaki lurus
(telapak kaki ditahan), lakukan perkusi pada tendon achiles, dan perhatikan
gerakan / reaksi yang terjadi.
Berikan nilai respon refleks sebagai berikut:
Nilai 0 (0) : tidak ada respon
Nilai 1 (+) : respon lemah (berkurang)
Nilai 2 (++) : aktif
(normal)
Nilai 3 (+++) : peningkatan respon (hiperaktif sedikit)
Nilai 4 (++++) : respon cepat sebentar atau kejang klonik
sementara
Nilai 5 (+++++) : respon
sangat cepat dengan kejang klonik yang terus menerus
b)
Refleks patologis (bila dijumpai adanya kelumpuhan pada
ekstimitas pada kasus-kasus tertentu)
1)
Refleks
babinski:
- Lakukan penggoresan pada telapan kaki dengan
menggunakan benda tumpul dari belakang menyusuri bagian lateral dan menyeberang
ke medial menuju ke ibu jari kaki. Perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari
kaki.
2)
Refleks
chaddock:
- Lakukan penggoresan dengan menggunakan benda
tumpul dari tepi kaki mulai dari maleolus lateralis menuju ke kelingking dan
perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
3)
Refleks
schaefner:
- Lakukan penekanan pada
tendon achiles dan perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
4)
Refleks
oppenheim:
- Lakukan penekanan dengan gerakan cepat mulai dari
bawah patella sepanjang daerah tibialis anterior media menuju ke kaki.
Perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
5)
Refleks
Gordon:
- Lakukan penekanan pada daerah musculus
gastrochemius, dan perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu jari kaki.
6)
Refleks bing:
- Lakukan penggoresan secara berulang-ulang pada
bagian lateral / sisi luar kaki, dan perhatikan reaksi yang terjadi pada ibu
jari kaki.
7)
Refleks gonda:
- Tariklah jari-jari kaki dengan agak cepat dan
hati-hati mulai dari kelingking (kecuali ibu jari kaki) dan perhatikan reaksi
yang terjadi pada ibu jari kaki.
b.
Lakukan
pemeriksaan status mental :
Perhatikan:
1)
Kondisi emosi
klien / perasaan klien
- Apakah suasana hati yang menonjol (sedih / gembira)
- Apakah emosinya sesuai dengan ekspresi wajahnya.
2)
Bagaimana
orientasi klien terhadap: orang, tempat dan waktu (sesuai / tidak) kalau ada
ketidaksesuaian sebutkan.
3)
Bagaimana
proses berfikir klien, perhatikan:
- Apakah klien mampu mengingat dengan cepat,
mengingat hal-hal yang baru terjadi dan ingatan masa lalu.
- Bagaimana atensi / perhatikan klien terhadap
lingkungan sekitarnya, dan hal-hal yang terjadi pada dirinya.
- Bagaimana klien bersikap bila menghadapi suatu
masalah, mampukah dia mengambil keputusan dengan baik.
- Bagaimana kemampuan klien berkonsentrasi,
anjurkan klien menyebutkan huruf-huruf secara berurutan atau menghitung ke
belakang / terbalik secara cepat atau pengurangan tetap, misalnya: dua – dua,
atau tiga – tiga.
4)
Amati kemauan
/ motivasi klien dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan: misal kemauan dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya (makan, minum, perawatan dll), sesuaikah dengan
kemampuannya, kalau tidak sesuai cari penyebabnya.
5)
Bagaimana
persepsi klien:
- Bagaimana persepsi / penilaian terhadap diri
sendiri (adakah perubahan dalam konsep diri klien: gambaran diri, harga diri,
ideal diri, identitas diri dan peran).
6)
Bagaimana
bahasa yang digunakan oleh klien:
- Apakah kata-kata yang diucapkan klien jelas, dan
apakah klien menggunakan bahasa / isyarat tertentu untuk mengungkapkan
maksudnya, bila ada kelainan cari apa penyebabnya.


